dakm@unit.uns.ac.id | (031) 1234-5678
Kembali ke Berita Kontribusi Sosial dan Bantuan

Bidang Aksi dan Advokasi UNS Bekerjasama dengan IKA SPs UNS, Dinas Kesehatan Kab. Pacitan dan Yonif 934 SBY Genjot Kesadaran Kesehatan Warga Pacitan

19 April 2026
19 Apr 2026 WIB
Bidang Aksi dan Advokasi UNS Bekerjasama dengan IKA SPs UNS, Dinas Kesehatan Kab. Pacitan dan Yonif 934 SBY Genjot Kesadaran Kesehatan Warga Pacitan

Upaya mendongkrak kesadaran warga soal kesehatan mulai digenjot Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 934 Satria Buana Yudha (SBY) melalui bakti sosial cek kesehatan gratis (CKG) terpadu, di GOR Pacitan, Minggu (19/4/2026). 

Kegiatan ini menyasar masyarakat umum, dari balita hingga lansia, dengan target awal 100 peserta dalam sehari. Antusias warga yang datang pun membludak, bahkan sebelum acara dimulai.

Komandan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 934 Satria Buana Yudha (SBY), Mayor Inf Dr. Dian Nur Huda, mengatakan kegiatan ini memiliki misi mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli pada kondisi kesehatannya sendiri.

“Ini kegiatan baksos yang bersinergi untuk meningkatkan hidup sehat dan berkualitas. Jadi, kami ingin membangun masyarakat yang sehat, khususnya di Pacitan, bersama tenaga kesehatan. Kegiatan ini juga kami lakukan secara kolaboratif,” ujarnya.

 

Yonif 934 SBY 2Kolaborasi yang dimaksud tidak setengah-setengah. Selain melibatkan tenaga kesehatan dari Dinkes Pacitan, kegiatan ini juga menggandeng Ikatan Keluarga Alumni Pascasarjana UNS, Poltekkes Surakarta, STIKES Mambaul Ulum, dan STIKES Panti Kosala.

Mereka ikut memberikan penyuluhan dan bimbingan kesehatan setelah peserta menjalani pemeriksaan.

“Seperti yang kami sampaikan saat kali pertama datang lalu, kami menyentuh banyak sisi, saat ini kami berkolaborasi dengan tenaga kesehatan khususnya dari Dinkes, dan juga Pemkab Pacitan, dari ikatan keluarga alumni sekolah Pascasarjana UNS,” imbuh Dian.

Peserta yang datang tidak dibatasi kalangan tertentu. Semua warga bisa ikut, mulai balita hingga lansia cukup membawa KTP. 

Sosialisasi pun, kata dia,  sudah dilakukan sejak jauh hari melalui jaringan Babinsa hingga penyebaran flyer di masyarakat.

“Pesertanya, karena ini menggerakkan kesadaran masyarakat soal berkesehatan biar mereka sadar diri. Jadi ini full masyarakat umum. Jadi kita sudah komunikasi lewat Kodim-Babinsa kita edukasi ke mereka. Flyer pun sudah kami buat biar masyarakat sadar akan kesehatan,” jelasnya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pacitan, capaian cek kesehatan gratis tahun lalu justru meleset dari target. 

Dari target 46 persen, realisasinya hanya 32 persen. Tahun ini, target serupa kembali dipatok, yakni 46 persen atau sekitar 106 ribu warga. Namun hingga triwulan pertama, capaian baru menyentuh 9 persen.

“Saya sempat ngobrol dengan pak Kadinkes, ternyata di Tahun 2025 lalu, kesadaran untuk CKG menurun. Dari targetnya 46 persen, ternyata hanya tercapai 32 persen. Maka dari itu, ini tujuan kami berkolaborasi yaitu untuk memberikan kesadaran akan kesehatan masyarakat,” terang Dian.

Yonif 934 SBY 3

Karena itu, kegiatan semacam ini diharapkan bisa jadi pemantik. Ia menekankan pentingnya kesadaran individu sebagai pintu awal hidup sehat.

“Ya, saya mengharapkan untuk seluruh masyarakat Pacitan agar memiliki kesadaran akan kesehatan dirinya sendiri. Jadi, ketika kita sudah sehat secara pribadi baik fisik maupun rohani, insyaallah kita menjalankan aktivitas bisa lebih berkualitas,” pesannya.

Respons warga pun cukup positif. Salah satu peserta, Heri Nur Cahyono, 27, mengaku terbantu dengan layanan gratis tersebut. Ia bisa mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh tanpa harus merogoh kocek dalam.

“Kalau cek mandiri ini memakan biaya Rp1 juta. Alhamdulillah, mumpung gratis, daftarnya hanya pakai KTP tadi. Terima kasih TNI,” ucapnya.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan berbagai layanan, mulai dari cek tekanan darah, kolesterol, gula darah, berat badan, pemeriksaan mata, asam urat, hingga hipnoterapi. 

Setelah pemeriksaan, mereka juga mendapat penyuluhan kesehatan, snack, hingga makanan sehat seperti pala pendem.

Diharapkan kegiatan tersebut mendorong warga lain ikut peduli, memeriksakan diri, dan pada akhirnya mengubah budaya kesehatan di Pacitan lebih berkualitas.
 

Artikel ini telah tayang di timesindonesia.co.id. Baca selengkapnya

Punya berita seputar alumni? Yuk, Ajukan Sekarang!